SEPATU, PERJALANAN DAN DAKWAH




Seiring berjalannya waktu tanpa kita sadari, sepatu yang sehari hari kita gunakan mulai rapuh. Tapi semangat untuk terus berada di jalan dakwah tetap kokoh.

perjalanan untuk dakwah penuh lika liku yang sangat membingungkan. Kaki ini tidak akan menyerah melangkah kedepan untuk sebuah perubahan dan pengapdian di jalan dakwah.

Kulihat sepatu ini yang sehari hari jadi saksi bisu di setiap perjalanan dakwah mulai rapuh mudah mudahan akan segera ada penggantinya,,, hehehe.

Memutuskan untuk berdakwah tidaklah mudah seperti apa yang di lihat dan di bayangkan. 

Memutuskan untuk berdakwah berarti harus siap di caci, di cemo oh, di jauhi dan banyak lagi hal yang begitu memilukan yang harus kita hadapi.

Setiap itulah ujian dalam perjalanan dakwah ini, kita di uji seberapa kuat niat dan semangat kita karna allah SWT.

Menuju jalan dakwah tidak membuat kita akan menjadi seperti nabi muhammad, yang sudah di jamin akan masuk syurga, tetapi jalan dakwah yang kita pilih ini akan mempertemukan kita dengan orang" yang akan menghantarkan kita ke syurga insyaa allah.

Di saat kaki ini mulai lelah melangkah, ingat bahwa Allah tdk membutuhkan kita, tetapi kita lah yang butuh Allah.

Karena dakwah merupakan ibadah, maka harus dilakukan dengan keikhlasan dan mengikuti Sunnah Nabi. Sebagaimana telah maklum, dua perkara ini merupakan syarat diterimanya ibadah.


Kita harus Ikhlas dalam berdakwah, memurnikan niatnya untuk mengajak kepada agama Allah, semata-mata mencari ridhaNya, bukan mengajak kepada dirinya sendiri, kelompoknya, atau pendapat dan fikirannya. Juga tidak dengan niat untuk mengumpulkan harta, meraih jabatan, mencari suara, atau tujuan dunia lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلَ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ


“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni (ikhlas) untukNya dan untuk mencari wajahNya. [HR Nasa-i, no. 3140. Lihat Silsilah Ash Shahihah, no. 52; Ahkamul Janaiz, hlm. 63].

Selain ikhlas, di dalam berdakwah wajib mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga seseorang berdakwah berdasarkan ilmu, hikmah dan kesabaran. Tidak berdakwah dengan bid’ah dan kemaksiatan. Karena memang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan panutan terbaik bagi umat Islam dalam segala perkara, termasuk di dalam berdakwah menuju agama Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman:


لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kamu (umat Islam, yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (pahala) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. [Al Ahzab:21].




Komentar